hijabstory


Telah terjadi diskusi antara beberapa akhwat, tentang hukum memakai busana muslimah (jilbab/ gamis/ Jubah) yang bermotif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis di luar rumah di hadapan non mahrom, dimana ada yang membolehkan dan ada yang tidak. Berikut kami ringkaskan diskusi yang terjadi:
Yang membolehkan berhujjah/beralasan:

1. Pakaian bermotif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis tersebut sudah biasa di negeri kita (Indonesia) dan berpakaian hitam/gelap polos malah menjadi perhatian orang di sebagian tempat, kondisi ataupun acara yang kebanyakan orangnya berpakaian bercorak-corak/batik. Hendaknya kita berpakaian sesuai ‘urf, karena menurut para ulama hukumnya makruh jika kita menyelisihi ‘urf berpakaian masyarakat setempat.

2. Hadits Ummu Kholid rodhiyallohu anha yang mengenakan baju bergaris-garis hijau & kuning dalam Shohih al-Bukhori:
أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالَ ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ أَبْلِي وَأَخْلِقِي وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ فَقَالَ يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَاهْ وَسَنَاهْ بِالْحَبَشِيَّةِ حَسَنٌ
“Dibawakan kepada Nabi sebuah kain yang di dalamnya ada pakaian kecil yang berwarna hitam. Maka beliau bersabda, “Menurut kalian siapa yang pantas kita pakaikan baju ini?” maka para sahabat diam. Beliau bersabda, “Bawa Ummu Khalid ke sini,” maka Ummu Khalid pun dibawa kepada beliau, lalu beliau mengambil baju tersebut dan memakaikannya. Lalu beliau bersabda, “Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru.” Pada pakaian tersebut ada corak yang berwarna hijau atau kuning, dan beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (no. 5375)
Dan berpendapat bahwa meski ketika itu Ummi Khalid belum baligh namun Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan, sehingga hadits ini menunjukkan bolehnya seorang perempuan dewasa mengenakan pakaian berwarna hitam yang bercampur dengan garis-garis berwarna hijau atau kuning di hadapan laki-laki non mahrom. Dan juga adanya kaidah “tidak boleh menunda penjelasan ketika dibutuhkan”.

3. Imam Bukhori pernah meriwayatkan dalam kitab Shohih-nya bahwa Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah mengenakan pakaian berwarna merah dengan “corak mawar” ketika sedang melakukan ihrom di Makkah. (catatan : Namun dalam diskusi tidak diberikan teks haditsnya & nomor hadits tersebut. Mohon konfirmasi dari ustadz, apakah hadits yang bermakna seperti ini ada atau tidak dalam shohih al-Bukhori?)

4. Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahulloh yang teks terjemahannya ada di link : http://www.alfurqon.co.id/busana-muslimah-dengan-bordir-dan-renda/

5. Fatwa syaikh Ali bin Hasan al-Halabi yang mengatakan bahwa batasan perhiasan adalah tergantung ‘urf masing-masing daerah.

6. Penjelasan Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shohih Fiqhis Sunnah lin Nisaa’ II/147-149.

7. Berpakaian hitam atau warna gelap memang memiliki kecenderungan untuk tersamarkan dari pandangan, akan tetapi berpakaian motif pun bisa membuat kita tersamar dari pandangan. Yang terpenting adalah bagaimana kita berpakaian, bukan seperti apa pakaian kita.

8. Tidak ada dalil shohih & shorih yang melarang baru bermotif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis untuk dipakai wanita dewasa di luar rumahnya di hadapan non mahrom.
Yang tidak membolehkan berhujjah/ beralasan:
1. Keumuman firman Alloh ta’ala :
“dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka…” (QS. an-Nur : 31)
“Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” [QS. Al-Ahzab : 33]
Sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:
“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam ShahihAt-Tirmidzi , dan syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)

2. Motif/ renda/ bordir/ garis-garis/ batik tersebut termasuk perhiasan. Bahkan secara ‘urf pun jika kita bertanya pada orang-orang :“apa tujuan dibuatnya motif/renda/bordir dll tersebut di pakaian yang asalnya polos?”, akan dijawab : “supaya indah”, “untuk hiasan”, dan yang semisal itu. Dan secara bahasa pun (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia / KBBI online) motif/ renda/ bordir juga disifati sebagai hiasan.
Jika kalung kita sebut sebagai perhiasan leher, gelang adalah perhiasan tangan, anting adalah perhiasan telinga, lipstik adalah perhiasan bibir, maka kita juga bisa sebut motif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis adalah perhiasan pada baju.
Sedangkan salah satu syarat jilbab yang syar’i yang disebutkan oleh para ulama adalah bahwa pakaian tersebut bukanlah perhiasan & ia berfungsi untuk menutupi perhiasan, sehingga tidak masuk akal apabila jilbab yang dikenakan itu sendiri berupa perhiasan.

3. Dan memakai pakaian warna polos yang tidak mencolok di mata masyarakat tidak bisa dikatakan menyelisihi ‘urf, jadi untuk sesuai dengan ‘urf tidak harus dengan menghiasi pakaian dengan motif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis.

4. Fatwa Lajnah Da’imah nomor 21352, tetanggal 9/3/1421 H tentang “model aba’ah yang di syari’atkan untuk wanita”, yang beranggotakan : Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Abdulloh bin Ghudayyan, Syaikh Sholeh al-Fauzan dan Syaikh Bakr Abu Zaid, Lengkapnya ada di [http://alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=6411&PageNo=1&BookID=3]. Di antara kriteria yang disebutkan adalah:
رابعا: ألا يكون فيها زينة تلفت إليها الأنظار، وعليه فلا بد أن تخلو من الرسوم والزخارف والكتابات والعلامات.
“Keempat : Tidak diberi hiasan-hiasan yang dapat menarik perhatian mata. Oleh karena itu harus polos dari gambar, pernak-pernik, dan tulisan-tulisan, maupun simbol-simbol”.

5. Dinukil pula pendapat Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim dalam terjemahan kitabnya “Ahkamuz Ziinah lin Nisaa’” ketika menjelaskan syarat “Pakaian tersebut tidak berfungsi sebagai perhiasan”, setelah membawakan Surat an-Nuur ayat 31 beliau menjelaskan : “Hendaklah pakaian tersebut tidak bercorak (bermotif) atau bergambar atau berwarna warni lebih dari satu warna dan dibordir. Semua itu termasuk perhiasan yang tidak boleh ditampakkan oleh kaum wanita di hadapan lelaki yang bukan mahromnya.”

6. Hadits Ummu Kholid rodhiyallohu anha terjadi ketika Ummu Kholid masih kecil (bahkan masih digendong), sehingga tidak tepat jika meng-qiyas-kan hukumnya untuk wanita dewasa. Dan beralasan “Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan” tidak tepat karena banyak ihtimal lainnya, seperti :
Karena kain itu bercorak, maka Nabi memberikannya kepada anak kecil karena mereka belum mukallaf & tidak terkena hukum berhias.

7. Membolehkan motif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis pada pakaian akhwat akan membuka pintu tabarruj, sedangkan agama kita mengenal kaidah Saddu adz-Dzari’ah.
Mohon tarjih & nasehat ustadz dalam masalah ini dan mohon penjelasan bagaimana batasan ‘urf yang bisa digunakan dalam masalah pakaian muslimah ini?

Jawab:
Bismillah. waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Yang ana yakini bahwa pakaian bermotif tidak boleh digunakan oleh wanita muslimah ketika dia keluar rumah, karena dia termasuk zinah (perhiasan), sementara Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada mahram.
Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa para muslimah diwajibkan untuk berhijab, dan berhijab ini lebih umum maknanya daripada sekedar berjilbab atau bercadar atau menutupi seluruh anggota tubuhnya. Akan tetapi berhijab yang syar’i adalah seorang wanita menutupi seluruh tubuhnya serta perhiasannya, yang dengannya semua non mahram tidak bisa melihat sedikit pun dari tubuh dan perhiasannya.
Sekarang masalahnya, yang mana yang termasuk perhiasan?

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hirasah Al-Fadhilah pada pembahasan ‘Hijab yang bersifat khusus’ menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan zinah(perhiasan) pada firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka,” (QS. An-Nur: 31) adalah semua yang dipakai berhias oleh wanita, selain dari asal penciptaannya (postur tubuhnya), atau dinamakan az-zinah al-muktasabah (hiasan yang bisa diusahakan).
Maksudnya: Tubuh wanita adalah perhiasan akan tetapi tidak bisa diusahakan adanya, karena memang asal penciptaannya seperti itu.
Selain dari tubuhnya, yang juga diperintahkan untuk disembunyikan adalah perhiasan yang bisa diusahakan, yaitu segala sesuatu yang menarik pandangan orang selain dari anggota tubuhnya. Dan para ulama memberikan batasan dari zinah (perhiasan) adalah semua perkara yang menarik perhatian orang untuk melihatnya.

Jika ada yang bertanya: Bukankah pakaian luar (walaupun berwarna hitam) juga tetap dilihat oleh orang?
Jawab: Betul, karenanya seorang wanita dianjurkan untuk tidak sering keluar rumah agar pakaian luarnya pun tidak terlihat oleh orang lain.
Perlu diketahui bahwa pakaian luar asalnya termasuk perhiasan yang dilarang untuk diperlihatkan. Hanya saja berhubung terkadang wanita butuh keluar rumah karena ada keperluan maka pakaian luar pun Allah kecualikan dari hukum di atas dengan firman-Nya, “Kecuali yang nampak dari (perhiasan)nya.” Jadi pembolehan menampakkan pakaian luar termasuk hukum dharurat, karena wanita kadang diizinkan keluar sementara tidak mungkin dia keluar tanpa berpakaian.
Termasuk dalam ayat ini adalah ketika tanpa disengaja pakaian luarnya tersingkap sehingga terlihat pakaian dalamnya (maksudnya pakaian rumah yang ada dibalik jubah atau jilbabnya), maka ini termasuk dalam ayat, “Kecuali yang nampak darinya,” yakni yang terlihat dalam keadaan tidak sengaja, bukan disengaja.
Kesimpulannya:
Kalau para ulama menghukumi pakaian luar termasuk perhiasan yang harus ditutup, sementara dia hanya diizinkan untuk dinampakkan karena idhthirar(keterpaksaan/tidak ada pilihan lain), maka bagaimana bisa seseorang menambahkan lagi hiasan (apapun motif dan coraknya) padanya yang menjadikan orang lain tambah tertarik untuk melihatnya. Tentunya perbuatan ini termasuk dari perbuatan yang terlarang karena menjadikan jilbab luarnya (yang asalnya boleh dinampakkan secara dharurat) menjadi perhiasan yang tidak boleh dinampakkan.
Tambahan:
Melihat keterangan makna zinah (perhiasan) di atas, maka termasuk perhiasan yang harus disembunyikan oleh para wanita adalah: Tas atau dompetnya yang bisa menarik perhatian, sandal atau sepatu yang bentuk dan motifnya bisa menarik perhatian, kaus kaki atau kaus tangan yang bermotif, dan seterusnya.Wallahu Ta’ala a’lam.
.
Adapun dalil-dalil yang dibawakan oleh pihak yang membolehkan jilbab/jubah bermotif

1. Ucapan ini mengharuskan membolehkan semua pakaian yang haram boleh dipakai kalau memang pakaian itu banyak dipakai oleh orang lain. Kami katakan: Kenapa tidak sekalian melepaskan jilbab, toh yang tidak berjilbab lebih banyak di negeri ini dibandingkan yang berjilbab.
Kalau dia berkata: Pakaian masyarakat juga tetap harus mengikuti aturan syariat.
Kami katakan: Inilah yang kami inginkan. Walaupun pakaian bermotif bagi wanita ini adalah hal yang tersebar di negeri ini, akan tetapi ada syariat yang melarang wanita untuk menampakkan perhiasan. Dan sudah dijelaskan bahwa pakaian bermotif termasuk dari perhiasan. Wallahul muwaffiq.

2. Adapun hadits Ummu Khalid, maka seperti yang anti sebutkan bahwa Ummu Khalid ketika itu masih anak-anak sehingga diperbolehkan untuknya apa yang tidak diperbolehkan untuk wanita dewasa. Karenanya tidak bisa dikatakan bahwa beliau tidak melatih dan membiasakan anak kecil untuk bermaksiat karena itu bukanlah maksiat bagi dirinya.
Apakah dikatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- membiasakan anak kecil berbuat maksiat atau atau dikatakan beliau mengundurkan penjelasan ketika dibutuhkan, tatkala beliau membiarkan dua anak kecil memukul rebana sambil bernyanyi di hari id?
Apakah dikatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- membiasakan anak kecil berbuat maksiat atau atau dikatakan beliau mengundurkan penjelasan ketika dibutuhkan, tatkala beliau mengizinkan Aisyah bermain boneka berbentuk makhluk hidup?
Hasya wa kalla, sekali-kali tidak.
Jika dia mengatakan: Pembolehan anak kecil menyanyi di hari id dan bermain boneka ada dalil yang membolehkannya. Maka kami katakan: Memakai pakaian bermotif bagi anak kecilpun ada dalil yang membolehkan. Karenanya masalahnya jangan dicampuradukkan.

3. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Hajj, Bab: Para wanita tawaf dengan para lelaki, no. hadits 1618 (cet. Dar Al-Hadits), dari Atha’ dia berkata:
وَكُنْتُ آتِي عَائِشَةَ أَنَا وَعُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهِيَ مُجَاوِرَةٌ فِي جَوْفِ ثَبِيرٍ قُلْتُ وَمَا حِجَابُهَا قَالَ هِيَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ لَهَا غِشَاءٌ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهَا غَيْرُ ذَلِكَ وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا مُوَرَّدًا
“Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah radliallahu ‘anha yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku (Ibnu Juraij) bertanya: “Hijabnya apa? Ia menjawab: “Dia berada di dalam sebuah tenda kecil. Tenda itu memiliki penutup dan tidak ada pembatas antara kami dan beliau selain penutup itu, dan aku melihat beliau mengenakan gamis berwarna mawar”.
Sudah dimaklumi bersama bahwa seorang salafi tidaklah memahami sebuah hadits hanya berdasarkan terjemahannya, akan tetapi dia diharuskan untuk merujuk kepada syarah para ulama terhadap hadits tersebut.
Dan kelihatannya kesalahpahaman mereka memahami hadits ini untuk membolehkan pakaian bermotif juga lahir karena mereka hanya berlandaskan pada terjemahan biasa dan tidak merujuk kepada ucapan para ulama terhadap hadits ini.
Kami katakan: Tidak ada sedikit pun sisi pendalilan dalam kisah bagi yang membolehkan pakaian yang bermotif. Ini bisa ditinjau dari beberapa sisi:
1) Makna kalimat dir’an muwarradan dalam kisah di atas bukanlah jubah bermotif mawar sebagaimana yang diterjemahkan oleh sebagian penerjemah. Akan tetapi maknanya sebagaimana yang Al-Hafizh Ibnu Hajar terangkan, “Warnanya warna mawar,” yakni berwarna merah.
Karenanya terjemahan yang anti sebutkan bahwa: [Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah mengenakan pakaian berwarna merah dengan “corak mawar” ketika sedang melakukan ihrom di Makkah] adalah tidak tepat. Lagi pula kisah ini tidak terjadi di Makkah akan tetapi terjadi di bukit dekat Muzdalifah.
2) Al-Hafizh menyebutkan lafazh ucapan Atha’ dalam riwayat Abdurrazzaq, “Pakaian yang berwarna, dan ketika itu saya masih kecil.” Al-Hafizh berkata, “Maka Atha’ menjelaskan sebab dia bisa melihat Aisyah,” yakni: Atha’ bisa melihat pakaian Aisyah dan Aisyah mengizinkan dia melihatnya karena Atha` waktu itu masih kecil. Dan tidak mengapa seorang wanita menampakkan perhiasannya kepada anak kecil. Itupun kita katakan Aisyah sengaja menampakkannya, akan tetapi yang Nampak beliau tidak sengaja menampakkannya, dengan dalil adanya hijab di antara mereka.
3) Al-Hafizh juga menambahkan, “Ada kemungkinan dia tidak sengaja melihat baju yang beliau kenakan.” Dan ketidaksengajaan tidak boleh dijadikan dalil pembolehan sesuatu yang dikerjakan dengan sengaja.
(Fathul Bari: 3/545, cet. Dar Al-Hadits)

4. Bagaimana bisa ucapan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin ini dijadikan pendukung bagi yang membolehkan wanita memakai pakaian bermotif, sementara ucapan beliau tegas sekali melarangnya. Beliau mengatakan, “Apabila kita terapkan kaidah ini untuk masalah yang ditanyakan, maka kami mengatakan bahwa hukum asal pakaian itu dibolehkan, akan tetapi apabila terdapat hiasan- hiasan bordir itu menarik perhatian bagi yang melihatnya, maka kami melarangnya bukan karena pakaian itu haram, tetapi karena pakaian itu menimbulkan fitnah.”

5. Kami tidak tahu fatwa Syaikh Ali Hasan tersebut, tapi kalau memang beliau mengatakan bahwa batasan perhiasan adalah tergantung ‘urf masing-masing daerah. Maka tidak ada masalah, kita katakan: Renda atau corak pada bordir dan semacamnya menurut ‘urf orang Indonesia adalah hiasan. Silakan tanya kepada siapa saja yang ingin mengenakan/menambahkan bordiran pada pakaiannya, apa tujuannya? Kira-kira apa tanggapan para wanita awam yang punya bordiran/motif pada pakaiannya tatkala dia disuruh untuk menghilangkan/membuang bordiran/motif itu?
Jawabannya tentu: Saya pasang itu untuk memperindah pakaian, dan saya tidak mau menghilangkannya karena akan memperjelek pakaian atau akan membuatnya kurang menarik.
Bukankah sesuatu yang indah dan menarik perhatian pada wanita termasuk zinah(perhiasan) syar’i yang harus disembunyikan???

6. Pada kitab Fiqhus Sunnah lin Nisa` cet. Al-Maktabah At-Taufiqiah, pembahasan ini terdapat pada jilid 3 hal. 33-34.
Di sini Abu Malik Kamal -jazahullahu khairan- hanya menyebutkan masalah bolehkah wanita memakai pakaian selain warna hitam?
Itupun di akhir pembahasan beliau menyebutkan bahwa yang dibolehkan hanya yang satu warna polos. Adapun yang terdiri dari dua warna atau lebih dalam satu kain maka itu termasuk pakaian yang dilarang karena akan membentuk suatu motif.
Apa yang beliau sebutkan ini sejalan dengan nukilan yang anti sebutkan dari Amr bin Abdil Mun’im Salim, “Hendaklah pakaian tersebut tidak bercorak (bermotif) atau bergambar atau berwarna warni lebih dari satu warna dan dibordir. Semua itu termasuk perhiasan yang tidak boleh ditampakkan oleh kaum wanita di hadapan lelaki yang bukan mahromnya.”
Dan kami sependapat dengan mereka berdua di atas, berdasarkan dalil-dalil yang mereka bawakan.
Jadi penulis tidak menyinggung masalah pakaian bermotif atau berenda dan semacamnya. Tapi kelaziman dari definisi zinah (perhiasan) yang dia sebutkan, adalah dia harus menggolongkan renda/bordiran termasuk zinah yang harus untuk ditutup. Karena dia berkata ketika menafsirkan ayat 31 dari surah An-Nur, “Perhiasan di sini secara umum mencakup pakaian luar jika pakaian luar itu dihiasai dan menarik para lelaki untuk melihatnya.”
Bukankah ini kenyataan yang terjadi pada mereka yang memakai pakaian bermotif/berenda? Mata lelaki (yang ngaji maupun yang tidak) bisa tertarik untuk melihatnya -kecuali yang dirahmati oleh Rabbnya-.
Kemudian di akhir pembahasan beliau (Abu Malik) menyebutkan, “Apa yang telah kami bahas (berupa pembolehan memakai pakaian berwarna bagi wanita, pent.) tidak menghalangi untuk kita mengatakan bahwa yang pakaian yang paling utama dan lebih menutupi tubuh bagi wanita adalah yang berwarna hitam.”
Maka wahai muslimah yang mengharapkan keberuntungan dan pahala yang besar, apa yang menghalangi kalian untuk mengamalkan yang paling utama? Kenapa justru mengamalkan yang kurang utama dan meninggalkan yang lebih utama, hanya karena tidak enak dihadapan manusia??
Tambahan: Masalah warna pakaian ini, walaupun pada dasarnya wanita bisa memakai pakaian berwarna (sekali lagi bukan bermotif atau bordiran), maka di zaman ini apakah ada alim yang faham kaidah saddu adz-dzariah (menutup wasilah maksiat) yang akan mengatakan: Bolah seorang wanita memakai pakaian berwarna pink?
Padahal pink ini sudah identik dengan keindahan dan wanita. Bukankah kalau kita menerapkan ucapan Syaikh Ali Hasan di atas, pakaian pink ini juga termasuk zinah (perhiasan) yang harus ditutup?
Maka demikian pula yang kami katakan pada warna-warna lainnya. Kami katakan sebagaimana apa yang Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin katakan bahwa walaupun asalnya adalah mubah tapi dia bisa dilarang untuk dipakai tatkala dia dianggap sebagai perhiasan, wallahu a’lam.

7. Apa maksudnya ‘dengan berpakaian motif kita bisa tersamar dari pandangan’? Apa maksudnya dengan pakaian seperti itu kita bisa berbaur dengan masyarakat dan tidak tampak mencolok?
Kalau iya, kembali kami katakan: Kalau lebih tidak mau mencolok adalah dengan cara lepas jilbab, insya Allah tidak akan mencolok sama sekali.
Subhanallah, betapa anehnya pendalilan seperti ini. Bukankah Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menegaskan bahwa pengikut beliau di akhir zaman akan dianggap asing (berbeda dari yang lainnya). Lantas kenapa engkau wahai muslimah ingin agar kamu tidak dianggap mencolok (asing) di mata manusia?

8. Kalau maksudnya dalil shahih lagi sharih itu harus berbunyi, “Wahai wanita mukminah, janganlah kalian memakai pakaian bermotif,” atau berbunyi, “Wanita mana saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah mengenakan pakaian berenda,” dan semacamnya.
Maka hanya orang-orang awam atau orang bodoh yang mencari dalil shahih lagi sharih -semacam ini- dalam semua permasalahan dalam Islam.
Dalil yang shahih lagi sharih bagi kami adalah ayat yang melarang wanita menampakkan perhiasannya. Dalil yang shahih lagi sharih bagi kami adalah dalil yang melarang wanita melalui kaum lelaki dengan memakai apa saja yang membuatnya menarik, baik itu parfum maupun pakaian bermotif. Bahkan pakaian bermotif ini lebih parah dari parfum, karena parfum hanya bisa dinikmati oleh orang yang ada di sekitar wanita itu, sementara pakaian yang menarik pandangan bisa dinikmati dan ditonton oleh orang yang berjarak 500 meter darinya (dengan menggunakan teropong tentunya).
Wallahu Ta’ala A’lam, wahuwa Yahdi ila sawa`is sabil.
***
Dijawab oleh : al-Ustadz Hammad Abu Muawiah hafidzohulloh -wa jazahullohu khoiron-
Sumber : Al atsariyyah.com
http://ummushilah (dot) 0fees.net/wordpress judul asli Polemik Busana Muslimah bermotif


setelah satu per satu aq baca aturan berhijab yang benar sesuai dalil yg shahih,sepertinya sudah saatnya aq untuk mempraktekanya. jujur awal-awal rasanya berat sekali,karena aku harus mengubah mindsetku yang selama ini tampil sebagus mungkin saat keluar rmh menjadi tampil sesederhana mungkin dgn hijab yg sempurna.ada perasaan ngga yakin dalam diriku sendiri,apa aku bisa? ini bener-bener diluar kebiasaan aq dan kebayakan orang di lingkunganku,apalagi di jaman skrg ini,aku harus keluar rmh dgn hijab yg keliatanya udah kaya pake mukena aja,waduh apa kata dunia,pasti keliatan udik ni, belum lagi ribetnya,mm..tp itukan baru bayanganku aja,yasudahlah daripada kebanyakan mikir mending langsung praktekin aja. walaupun kedengeranya tidak masuk akal,aq berusaha utk tetap berbaik sangka dgn perintahNya,semua pasti ada hikmahnya,yakin aja Allah menginginkan kemudahan utk umatNya.

hari pertama, aku coba pake di rmh aja,kesan pertama,wah isis dan praktis jg ni dibanding pake hijab/bergo yg pendek. soalnya kalo lagi darurot gitu,kaya pas ada tamu ato buru2 keluar ngejar sari roti trus aq pas pake tanktop,tinggal pake jilbab aja,kan jilbabnya panjang tuw,nutup sampe ke telapak tangan,jadi ngga pake lengan panjang,tangan kita udah ketutup smua,makanya jadi isis dan praktis,asal ngga angkat tangan aja ya plus hijabnya harus yg berbahan tebal dan pastinya bawahanya pake rok,bukan celana.(eh ini tdk disarankan utk bepergian,hanya saat di rmh aja,klo sempet berpakaian lengkap,itu jauh lbh baik).

Setelah pake di rumah,berlanjutlah keinginanku untuk mencoba memakainya saat bepergian,Alhamdulilah ternyata aku merasa adem-adem aja walaupun dengan berpakaian lengkap,ow ternyata ini to kuncinya tetep adem saat berhijab, ya harus longgar dan menjulur kebawah,dengan begitu sirkulasi udara bisa lebih bebas keluar masuk dibanding dengan hijab yg pendek dan ketat,pastinya akan terasa gerah. dan kalo ngomongin masalah ribet,ternyata tidak seribet yang aku bayangkan,malah justru jauh lebih simpel dibanding hijab ala aq dulu,aku harus kreasi jilbab dulu,mecinging sana sini,belum dandanya,pake bedak,eye liner,pensil alis,blush on,dll.untuk pergi keluar rumah aku harus meluangkan waktu minimal sejam untuk semua hal itu,kalo sekarang tinggal blas blus aja jadi deh.dan setelah hampir setengah tahun ini aq pake, banyak manfaat lebih yang aq rasakan,seperti bisa leluasa menyusui dimanapun kapanpun tanpa kawatir auratku terbuka,kalo pergi ngga perlu lagi bawa mukena,tinggal solat aja bisa,karena blinya dalam bentuk stelan jilbab gamis jd otomatis udah mecing.simpel kan? Dan sepertinya relevan2 aja untuk digunakan di jaman sekarang mengingat bumi makin lama makin tidak ramah lingkungan, polusi disana-sini,belum lagi terik matahari dan isu-isu global warming,jadi memang harus ada alat bantu yang bisa melindungi kecantikan kaum hawa,apalagi kalau bukan lembaran kain hijab yang bisa menjangkau smua kalangan. kalo diperhatikan,iklan tv sekarang isinya iklan-iklan produk kosmetik yang menjanjikan perlindungan dari polusi udara dan terik matahari, padahal tabir surya yang paling ampuh dan murah meriah ya kain hijab itu sendiri,simpel kan, subhanallah, Allah maha tau yang kita butuhkan,tinggal sekarang apa kita percaya dan ridho dengan perintahNya,jangan sampai kita meragukan perintah Allah yang satu ini,karena Hijab bagi wanita itu sama wajibnya dengan sholat,alangkah ruginya jika kita rajin solat tapi ngga pake Hijab syar’i, sama aja kita mengisi air kedalam ember yang bocor. yakin dan percaya, dibalik perintahNya pastilah untuk kebaikan kita sendiri.


aku bukanlah orang baru dalam berhijab,sudah hampir 5 tahun ini aku menggunakan hijab,tapi baru-baru ini aja aku mengerti tentang hijab syar’i yg sebenarnya. Ternyata selama ini aq belum sepenuhnya berhijab dengan sempurna,aku masih sekedar menutup rambut dan tubuhku dengan pakaian yg seadanya tanpa memperhatikan standar prosedur berhijab yang seharusnya disesuaikan dengan Alquran & sunnah.aku kira itu tidaklah penting,yang penting niatnya,tapi ternyata itu belum cukup.karena syarat diterimanya amal itu harus ikhlas dan sesuai tuntunan dan segala bentuk amal itu seharusnya didahului dengan ilmu yang cukup,dengan begitu amal qta tidak akan sia-sia. Aku ngga mau menjadi orang-orang yang disebutkan dalam Alquran yaitu: ”katakanlah(muhammad),apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatanya?” yaitu orang yang sia-sia perbuatanya dalam kehidupan dunia,sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan tidak percaya terhadap pertemuan denganNya.maka sia-sia amal mereka dan kami tidak memberikan penimbangan terhadap amal mereka pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi 103-105)
hiii,syerem ya,naudzubillah.
di era informasi seperti sekarang ini bukanlah hal yang susah untuk mencari tahu itu semua,aku hanya memanfaatkan handphoneku untuk menjawab rasa ingin tahuku itu dan Alhamdulilah Allah mudahkannya untuku. Tapi untuk diawal sungguh terasa berat rasanya menerima kenyataan tentang kebenaran ini,hijab yang sempurna itu ternyata tidaklah seperti yang banyak orang pakai,tidak terlihat indah dan modis,karena bukan itu tujuanya.hijab sejatinya hanyalah baju luar yang fungsinya untuk menutupi seluruh tubuh dan mihnah(pakaian yg digunakan di rumah) saat kita keluar rumah. Secara fungsional aku baru ngeh klo hijab ya sekedar pakaian penutup tubuh aja,bukan pakaian untuk gaya-gayaan atau untuk terlihat cantik. Sebenarnya malah simple ya,aq ngga perlu lg ribet sama dandan & kreasi jilbab yang diuntel sana sini. Dulu aq bisa sejam tu bwt ngurusin alis sama pake eyeliner,udah ribet,wasting time plus g syar’i pula,yang ada hanya sia-sia. sadar ngga sadar aku malah terbiasa dengan budaya asing dan asing dgn budaya islam itu sendiri. kalo mau pergi ke luar rmh ya musti berpakaian bagus,dandan yg cantik& wangi,padahal di islam sendiri mengajarkan sebaliknya,berpakaian bagus dan berdandan itu saat di rumah dan saat keluar rumah tutupilah perhiasan itu(aurat,pakaian rmh,make up) dengan HIJAB yang sempurna. dan penjelasan ini sudah ada dalam Alquran al-ahzab 33 dan 59.
Bersambung insya Allah


mana yang syar'i ?

Bismillah. di Zaman sekarang ini agak sulit ya menilai hijab itu sudah syar’i atau belum,apalagi setiap daerah memiliki cara dan standarnya masing-masing,koq ngga kompak ya,koq ngga ada keseragaman dalam menetapkan batas syar’i, secara ngga langsung hal ini membuat muslimah jadi terkotak-kotak sesuai dengan gaya hijabnya masing-masing. aku sendiri jadi bingung dan bertanya-tanya kenapa kalo soal busana yang lagi ngetren,para wanita kompak banget dan taat mengikuti tren yang ada,kalo lagi ngetren legging,semua pake legging atau kalo lagi in hotpants,hampir semua wanita di penjuru indonesia pake hotpants,dan sepertinya sesuatu yang tren itu untuk seorang wanita hukumnya wajib pake, kalo ngga nanti takut dibilang ketinggalan jaman. Padahal mereka tahu betul kalo pakaian-pakaian yang sedang tren itu bukanlah busana lokal yang sesuai dengan budayanya (memakai jarik dan kebaya). Berbeda penerapannya ketika menggunakan hijab, kebanyakan muslimah sekarang merasa bangga bukan ketika dia menggunakan hijab yang nge ‘tren’ di kalangan kaum muslim itu sendiri(sesuai tuntunan) tetapi justru bangga ketika menggunakan busana muslim yang disesuaikan dengan trend yang ada yang asalnya dari budaya asing (wanita kafir),mmm….
Alhamdulilah dengan berjalannya waktu,pelan-pelan aku mulai ngerti mana yang sya’i dan mana yang tidak, dan ternyata mudah koq untuk mengetahui syar’i tidaknya hijab itu, ya kita lihat saja apa hijab itu sudah memenuhi fungsinya (menutupi aurat) dengan sempurna atau belum,pada intinya kalo hijab itu bisa menutupi seluruh tubuh dan membuat wanita itu tampak tidak menarik berarti hijab itu berfungsi sebagaimana mestinya,tapi kalo hijab itu membuat seorang wanita terlihat cantik sehingga menarik untuk dilihat ya berarti tidak bekerja sesuai fungsinya,sama aja percuma dong pake jilbab tapi masih berpotensi memikat hati para laki-laki apalagi sampai membayangkanya. Jika saja semua muslimah mau menggunakan hijab sesuai dengan fungsinya(sesuai tuntunan),pastinya akan menghasilkan gaya hijab yang sama dan terhindar dari kesenjangan(mengkotak-kotakaan) kaum muslimah itu sendiri, baik itu dia dari kalangan pejabat,rakyat biasa,kaya atau miskin,semua akan terlihat sama.
lalu seperti apakah hijab syar’i itu? di zaman sekarang ini adakah contoh yang bisa kita jadikan qiblat (trend setter) dalam berbusana muslim? Maka aku harus menjawab ada koq, ya seperti yang digunakan wanita-wanita di kota Mekah dan Madinah,kenapa? karena disitu adalah pusat dan asal ajaran Islam (trend setter) dan otomatis dengan begitu mereka yang tinggal disana bisa lebih mengenal ajaran islam dengan baik dibanding kita, logikanya apa iya busana muslim yang mereka gunakan itu salah dan malah parahnya ada yang bilang aliran sesat,lalu apa kita wanita Indonesia lebih mengerti tentang berbusana muslim yang benar? sama halnya dengan fashionista di seluruh dunia,yang qiblatnya mengarah pada gaya fashion yang sama,bermula digunakan oleh wanita-wanita di New York,Paris,Milan ataupun harajuku,yang merupakan pusat mode dunia. Saat ngetren legging,maka seluruh dunia menggunakan legging atau saat tanktop sedang in maka seluruh dunia akan menggunakan tanktop, dan wanita-wanita yang tinggal di pusat mode pastinya lebih mengerti cara berbusana yang modis dan ngetren dibanding dengan wanita yang diluar kota pusat mode. Ya begitulah manusia memiliki kecenderungan untuk meniru atau membebek (copycat).
Jika kita ingin menjadi muslimah sejati tirulah muslimah shalihah yang paham berbusama muslim yang benar. Jadi tidaklah aneh jika kita berbusana muslim mencontoh muslimah Mekah dan Madinah, karena akan lebih aneh lagi jika seorang yang mengaku muslimah berbusana muslim berqiblat pada tren busana milan,Paris ataupun Harajuku yang sama sekali tidak islami dan sama aja kita meniru gaya busana budaya asing (wanita kafir).
ukhty fillah,ayo kita sama-sama belajar untuk berhijab yang benar,jangan sampai hijab yg seharusnya menjadi amalan yg bisa menyelamatkan kita dari api neraka malah sebaliknya menjadi boomerang bagi kita sendiri, ketika kita tidak menempatkan fungsi hijab itu semestinya yaitu menjadikanya alat untuk menutupi aurat kita, tapi malah menjadikanya sebagai alat untuk mempercantik diri dihadapan mata-mata yang bukan haknya,waa yaudzubillah.
tinggalkanlah tabaruj (berhias di depan publik) karena itu adalah warisan budaya jahiliyah dan bukan kebiasaan wanita-wanita yang mengaku modern. Hijab syar’i itu bukanlah budaya primitif, tapi sebaliknya merupakan pembaharuan untuk menjadikan kaum ini lebih beradab dan bermartabat yang diajarkan langsung oleh Allah melalui RosulNya Salallahu ‘alaihi wassalam. Kita sebagai manusia seharusnya percaya bahwa dibalik smua perintahNya pastilah ada hikmahnya,dan jika kita mau berpikir dan menggunakan akal sehat intinya semua itu untuk kebaikan kita juga. Jadi berbaik sangkalah kepada Allah.
Hijab itu bukan bentuk kekerasan ataupun pengekangan kepada wanita,tapi justru sebaliknya merupakan wujud kasih sayang Allah kepada mahluknya yg bernama wanita. Wanita itu seperti perhiasan,apapun yang ada pada dirinya adalah suatu keindahan yang membuatnya sangat rentan untuk diperdagangkan. ibarat sebuah berlian saja dikemas sedemikian rupa agar tidak mudah rusak dan tidak sembarang orang dapat memegangnya,apalagi wanita yang tak ternilai harganya. ukhty fillah,jangan jadikan dirimu lebih rendah dari sebuah berlian yang harganya hanya miliyaran rupiah. Mulailah hargai dirimu dari pakaian yang kau kenakan,segeralah berhijab dengan syar’i,waktu kita di dunia ini sangatlah singkat,jika kita dipanggil olehNya nanti dan ditanyakan amalan hijab kita,tidak ada alasan untuk kita tidak mengetahui tentang berbusana muslim yang syar’i itu seperti apa,apalagi di zaman sekarang ini dimana perangkat gadget selalu dalam genggaman yang memudahkan kita untuk mengakses informasi tentang hakikatnya hijab syar’i itu. semagatlah untuk terus menggali kebenaran tentang perintah hijab dan selalu berbaik sangkalah dengan perintahNya,karena tidak selamanya yg baik menurut kita itu baik menurut Allah dan terkadang sesuatu yang tidak kita sukai itu justru sesuatu yg Allah sukai.

Twitter Terbaru

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.